matapenagaruda.com

Tutup mata Anda sejenak. Dengarkan baik-baik. Ada dua suara yang menggema melintasi lorong waktu sejarah bangsa ini. Suara pertama adalah dentuman keras sebuah pintu yang di banting dengan amarah yang membakar. Suara kedua adalah derit halus engsel yang di minyaki, di sertai gemerincing koin dan tawa ramah yang membius. Dua suara ini bukan sekadar peristiwa; ini adalah jiwa Indonesia yang terbelah.

Babak Satu: Sang Putra Fajar dan Harga Diri yang Mahal

Lihatlah ke kiri. Di sana berdiri sosok itu. Peci miringnya adalah mahkota, seragam putihnya adalah uniform perang. Ya itulah Soekarno sang putra fajar, Ia tidak sedang berdiplomasi; ia sedang meludahi ketergantungan.

Matanya menyala, urat lehernya menegang. Di hadapan tawaran bantuan asing yang ia anggap sebagai racun berbalut madu, ia memilih lapar daripada berlutut.

“Go to hell with your aid!”

Teriakan itu bukan sekadar slogan. Itu adalah mantra. Itu adalah momen ketika Indonesia memilih memakan batu asalkan itu batu dari tanah sendiri, daripada memakan roti yang di ulurkan tangan asing dengan syarat yang mengikat leher. Bung Karno membanting pintu itu—Braakk !—menutup akses bagi mereka yang ingin mendikte nasib Nusantara.

Di balik pintu itu ada kegelapan ekonomi, ada antrean beras, ada inflasi yang mencekik. Tapi di sana juga ada cahaya aneh bernama “Berdikari” (Berdiri di Atas Kaki Sendiri). Sebuah romantisme yang menyakitkan, namun memabukkan. Kita miskin, tapi kepala kita tegak menantang langit.

Babak Dua: Sang Jenderal Tersenyum dan Karpet Merah Emas

Kini, geser pandangan Anda ke kanan.

Suasana berubah drastis. Badai telah berlalu, di gantikan oleh langit biru yang cerah, mungkin terlalu cerah. Di ambang pintu yang sama, berdiri sosok berbeda. Tenang. Santun. Murah senyum.

Soeharto, The Smiling General, membuka pintu itu lebar-lebar.

Lihatlah plang di pintu itu: UU PMA 1967. Undang-Undang Penanaman Modal Asing. Itu bukan sekadar kertas hukum; itu adalah undangan pesta.

Di belakangnya, siluet kilang minyak dan cerobong asap mulai mengepul. Di hadapannya, para pria berjas para taipan global, para “hantu” kapitalisme yang dulu di usir Soekarno kini di sambut dengan jabat tangan hangat. Mereka tidak datang membawa senjata, mereka membawa koper. Koper berisi Dolar, Yen, dan janji pembangunan.

Pintu yang dulu di banting demi harga diri, kini di buka demi “kemakmuran”. Gunung emas di Papua mulai di keruk, hutan Kalimantan mulai di babat, minyak bumi mulai di sedot. Gedung-gedung tinggi menjulang, jalan tol terbentang. Perut rakyat mulai terisi, tapi jiwa mereka perlahan tergadaikan.

Epilog: Kita di Ambang Pintu Mana?

Gambar ini adalah cermin retak bagi kita hari ini.

Di satu sisi, kita merindukan keberanian Soekarno yang meledak-ledak, yang berani menunjuk hidung dunia. Namun, apakah kita siap dengan perut lapar dan isolasi?

Di sisi lain, kita menikmati kenyamanan yang di bangun Soeharto. Gadget di tangan Anda, mal yang megah, kendaraan yang nyaman. Namun, sadarkah Anda bahwa tanah di bawah kaki kita mungkin sudah di kavling oleh mereka yang tersenyum di balik pintu itu?

Sejarah tidak pernah hitam putih. Ia adalah pintu yang terus bergerak. Antara membantingnya dengan amarah atau membukanya dengan pasrah.

Dan hari ini, saat Anda melihat gambar ini, tanyakan pada nurani Anda yang paling dalam: Apakah kita tuan rumah di negeri sendiri, atau sekadar pelayan yang membukakan pintu bagi tamu yang hendak menjarah isi lemari kita?

(*Red.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *