matapenagaruda.com

Jember – Seperti mesin ekonomi yang baru dinyalakan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jember mulai menunjukkan denyut kekuatan yang tak hanya terasa di meja makan anak-anak, tetapi juga menjalar hingga ke sendi-sendi perekonomian masyarakat.

Di balik misi mulianya dalam pemenuhan gizi, program ini menyimpan efek berantai yang diproyeksikan mampu menggerakkan perputaran uang hingga triliunan rupiah setiap tahunnya—sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan harapan nyata bagi kesejahteraan rakyat.

Momentum penting tersebut ditandai dengan kunjungan Ketua Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Dadan Hindayana, pada Kamis (16/4/2026).

Sekaligus meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cahaya Sholawat Nusantara di Desa Wringin Agung, Kecamatan Jombang.

Kehadiran ini menjadi simbol keseriusan pemerintah dalam memastikan program MBG berjalan efektif dan menyentuh masyarakat hingga ke akar rumput.

Pemerintah Kabupaten Jember menyampaikan bahwa program ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh masyarakat. Harapan akan hadirnya MBG terasa begitu kuat, terutama di kalangan pelajar dan orang tua.

“Kalau kami turun langsung ke bawah, baik di SD, SMP, bahkan saat siaran langsung di media sosial, yang ditanyakan masyarakat adalah kapan mendapatkan MBG,” ungkap Bupati Jember, Muhammad Fawait.

Pernyataan tersebut mencerminkan betapa program ini telah menjadi kebutuhan yang dinanti, bukan sekadar kebijakan yang diperkenalkan.

Lebih dari sekadar intervensi gizi, MBG dipandang sebagai strategi ekonomi yang visioner. Bupati Fawait menegaskan bahwa program yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi daerah.

Jika dioptimalkan, perputaran dana melalui MBG di Jember diperkirakan dapat mencapai hampir Rp4 triliun per tahun—angka yang mendekati total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jember yang berada di kisaran Rp4,3 triliun.

“Perputaran ekonomi ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan pada akhirnya berdampak pada pengentasan kemiskinan,” jelasnya.

Dalam konteks ini, MBG bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang membangun—menciptakan siklus ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

Komitmen Pemerintah Kabupaten Jember untuk memaksimalkan penggunaan bahan pangan lokal menjadi langkah strategis yang memperkuat dampak program ini.

Dengan melibatkan petani, peternak, dan pelaku usaha kecil, manfaat ekonomi tidak berhenti pada satu titik, melainkan mengalir dan dirasakan secara luas oleh masyarakat.

“Kami akan mengawal program ini agar sukses dan berharap dapat membantu menurunkan angka kemiskinan di Jember, yang saat ini masih tertinggi kedua di Jawa Timur,” tambahnya.

Di sisi lain, Ketua BGN, Dadan Hindayana, menempatkan Jember sebagai salah satu daerah percontohan nasional dalam implementasi MBG.

Penilaian ini didasarkan pada sistem pendataan yang dinilai akurat hingga tingkat desa, RT, dan RW—sebuah fondasi penting dalam memastikan program berjalan tepat sasaran.

“Jember ini menjadi contoh karena pendataan dilakukan sampai ke tingkat desa, RT, dan RW, sehingga lebih akurat,” ujarnya.

Saat ini, jumlah penerima manfaat program di Jember mencapai sekitar 800.000 orang, atau setara 30 persen dari total populasi.

Meski demikian, tantangan pendataan masih menjadi pekerjaan rumah, terutama bagi kelompok rentan seperti santri, balita tanpa Nomor Induk Kependudukan, serta anak-anak dari pernikahan dini atau yang belum tercatat secara administratif.

Untuk menjangkau seluruh sasaran tersebut, Jember diperkirakan membutuhkan sekitar 400 unit SPPG.

Setiap unit akan mengelola anggaran sekitar Rp1 miliar per bulan, dengan komposisi penggunaan dana yang mencerminkan keberpihakan pada masyarakat, 70 persen untuk bahan pangan, 20 persen untuk operasional termasuk honor relawan, dan 10 persen untuk pengembalian investasi.

Skema ini tidak hanya memastikan keberlanjutan program, tetapi juga membuka peluang kerja baru bagi masyarakat lokal, termasuk ibu rumah tangga yang sebelumnya belum memiliki penghasilan.

Secara nasional, hingga saat ini telah tercatat sekitar 26.800 unit SPPG yang terdaftar dan seluruhnya dijalankan oleh mitra.

Peran mitra ini menjadi kunci dalam mempercepat implementasi MBG di berbagai daerah, menjadikan program ini sebagai gerakan bersama, bukan sekadar program pemerintah.

Dengan skala dan dampak yang demikian luas, program MBG di Jember telah melampaui fungsi awalnya sebagai pemenuhan gizi.

Ia tumbuh menjadi motor penggerak ekonomi lokal, jembatan menuju kesejahteraan, serta harapan baru dalam upaya menurunkan angka kemiskinan secara berkelanjutan. Di setiap piring makanan yang tersaji, tersimpan bukan hanya nutrisi, tetapi juga masa depan—masa depan yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih sejahtera bagi seluruh masyarakat.(andik s)

By sadola

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *